Kamis, 23 Mei 2019
FORMULIR PENGAJUAN PEMBIMBING
FORMULIR PENGAJUAN PEMBIMBING
kelompok 2.
1. Mohammad Arman
2. Sri Yanti
3. Dewikurniati
4. Ira sari
Kamis, 16 Mei 2019
Jumat, 10 Mei 2019
Kamis, 09 Mei 2019
Kamis, 02 Mei 2019
cv
CURRICULUM
VITAE
Nama lengkap : Mohammad Arman, S.Pd
NIM : 1810246816
Pendidikan terakhir : s1 bimbingan konseling
Pekerjaan : Guru bk smkn 1 Pekanbaru
Alamat : Jl. Zebra no. 30 kec. sukjadi kel. sukajadi
Tempat/ tanggal lahir : pekanbaru, 30 oktober 1992
pengalaman : Pt.DIKA, Guru ABK, Asuransi jiwasraya
pengalaman : Pt.DIKA, Guru ABK, Asuransi jiwasraya
E-mail : mohammadarmanarman938@gmail.com
Facebook : mohammadarman761@yahoo.
com
Twitter : -
Blog : mohammadarman1992.blogspot.com
Instagram : mohammadarman_
Website :
WA : 082282968414
HP :082282968414
komputer literasi : level 1, level 2 dan level 3
karya Ilmiah
KONSEP
DIRI SOSIAL
A.
APERSEPSI
Pada
kalangan siswa SMA ( Sekolah Menengah Atas) memiliki berbagai macam
permasalahan. Baik itu masalah pribadi, masalah keluarga maupun masalah sosial di lingkungan sekolah
dan masyarakat. Masa remaja juga rentan dalam berbagai masalah yang cukup
kompleks dan pelik. Karena dimasa inilah mereka mengenali dan mencari jati diri
untuk membentuk karakter terhadapa diri
sendiri. Mereka juga dituntut untuk bisa memahami diri nya sendiri untuk beradaptasi
dengan baik di lingkungan sekolah. Baik itu dengan guru maupun dengan teman
dikelas.
Untuk
mengetahui perubahan-perubahan yang sangat cepat tersebut tidak jarang
menimbulkan dampak yang tidak menyenangkan bagi individu. Untuk menghadapi
kondisi-kondisi yang tidak menyenangkan tersebut, sejumlah ahli psikologi
memandang perlu untuk membangun kekuatan dalam
internal diri individu. Konsep diri lah yang sesuai untuk membangun kekuatan dalam
internal dan eksternal bagi individu itu sendiri. Konsep diri bukan merupakan
faktor bawaan atau herediter. konsep diri bentukan dari pengalaman individu
selama proses perkembangan dirinya menjadi dewasa. Proses pembentukan diri
tidak terjadi dalam waktu singkat melainkan melalui proses yang
berkesinambungan. konsep diri
ini merupakan gambaran yang dapat
menilai individu tentang dirinya sendiri.
Menurut Hurlock (1988) berpendapat bahwa konsep diri ada
beberapa jenis yaitu konsep diri
tentang ciri-ciri fisik, konsep diri
psikis, konsep diri sosial
dan emosi, konsep diri
aspirasi dan konsep diri prestasi.
Begitu pula Byrne dan Shavenson (1986) berpendapat yang menyatakan ada
tiga macam jenis kosep diri ialah:
1.
Konsep diri
sosial
2.
Konsep diri
akademik
3.
Konsep diri fisik.
Ketiga macam jenis konsep diri ini dapat
mempengaruhi hasil usaha yang dilakukan individu. Konsep diri berkembang terus
sepanjang hidup manusia. Namun, dalam kehidupan di sekolah ramai siswa yang
memiliki masalah terhadap sosial. Dengan demikian perlu nya konsep diri sosial
yang dikembangkan materi untuk siswa di sekolah. Begitu pula pada tahap
tertentu, perkembangan konsep diri sosial mulai berjalan dalam tempo yang lebih
cepat. Secara bertahap individu akan mengalami sensasi dari badannya dan
lingkungan sosial, dan individu akan mulai dapat membedakan mana yang baik dan
mana yang buruk dalam kehidupan sosial. Konsep diri sosial terbentuk
berdasarkan proses belajar dalam kelas dan luar kelas tentang nilai-nilai,
sikap, peran, dan identitas dalam hubungan interaksi sosial antara dirinya dan
berbagai kelompok seperti keluarga, teman sebaya dan stake holder (guru bidang
studi, guru wali kelas, kepala sekolah, wakil kepala sekolah dan sebagainya)
yang berada di sekolah. Proses perkembangannya konsep diri sosial individu,
dapat dipengaruhi dan sekaligus terdistorsi oleh penilaian orang lain. Namun
dalam perkembangan dan kehidupan setiap manusia sangat mungkin timbul berbagai
permasalahan sosial terhadap perkembangan konsep diri sosial individu itu
sendiri. Seperti adanya gejala perkembangan konsep diri sosial yang di alami
oleh siswa laki-laki. Untuk itu perlu ditentukan adanya bimbingan sebagai suatu
usaha pemberian bantuan yang diberikan baik pada individu maupun kelompok dalam
rangka memecahkan masalah yang dihadapinya.
Bidang Pribadi
|
STANDAR
KOMPETENSI
Memahami Konsep diri sosial dan aplikasinya
dalam kehidupan.
|
KOMPETENSI
DASAR
Mendeskripsikan Konsep diri sosial dalam kehidupan
sehari-hari
Memahami Konsep
diri sosial dan cara pembentukannya
|
INDIKATOR
PEMBELAJARAN
1.
Menjelaskan Pengertian
Konsep Diri
Sosial
2.
Menjelaskan Jenis-Jenis
Konsep Diri Sosial
3.
Menjelaskan Faktor Yang
Mempengaruhi Konsep Diri Sosial
4.
Menjelaskan Fungsi
Konsep Diri Sosial
5.
Menjelaskan Manfaat
Konsep Diri Sosial
6.
Menjelaskan Pembentukan
Konsep Diri Sosial
|
TUJUAN
PEMBELAJARAN
1.
Peserta Didik Dapat
Memahami pengertian
Konsep Diri
Sosial
2.
Peserta Didik Dapat
Memahami Jenis Jenis Konsep Diri Sosial
3.
Peserta Didik Dapat
Memahami Faktor Yang Mempengaruhi Konsep Diri Sosial
4.
Peserta Didik Dapat
Memahami Fungsi Konsep Diri Sosial
5.
Peserta Didik Dapat
Memahami Manfaat Konsep Diri Sosial
6.
Peserta Didik Dapat
Memahami Pembentukan Konsep Diri Sosial
|
C.
MATERI
POKOK DAN SUB MATERI
1. MATERI I PENGERTIAN KONSEP DIRI
SOSIAL
A. INDIKATOR
Siswa
mampu memahami dan menjelaskan pengertian self concept social siswa
serta mampu mempraktekkan bagaimana mengendalikan konsep diri sosial yang baik
B. PEMBAHASAN
MATERI
Gambar
1. Siapakah aku ini? Bagaimana gambaran tentang diriku yang sebenarnya?
Konsep
diri sosial merupakan terjemahan
dari self-concept dan berkaitan erat dengan kepribadian individu karena
konsep diri adalah suatu susunan (konstruk) dalam kepribadian (Rogers.dalam
Hall dan Lindzey, 1993). Konsep diri bukanlah faktor bawaan sejak lahir,
melainkan sebuah faktor yang dipelajari dan terbentuk dari pengalaman individu
dalam berinteraksi dengan individu lain maupun lingkungannya. Konsep diri
adalah cara individu memandang dirinya
secara utuh, fisikal, emosional, intelektual, sosial dan spiritual (Keliat,
2005). Konsep diri adalah citra
subjektif dari diri dan
pencampuran yang kompleks dari perasaan, sikap dan persepsi bawah sadar maupun
sadar.
Sosial dapat didefinisikan bagian
yang tidak utuh dari sebuah hubungan manusia sehingga membutuhkan pemakluman
atas hal-hal yang bersifat rapuh di dalamnya. Setiadi dan Kolip
(2011: 61) berpendapat sosial bahwa
di dalam kehidupan masyarakat, seseorang berinteraksi dengan orang lain secara
pribadi maupun kelompok. Interaksi dalam berbagai aspek kehidupan akan
menghasilkan timbal balik sebagai proses sosial. Aspek-aspek sosial yang saling
mempengaruhi misalnya, antara sosial dan politik, politik dan ekonomi, agama
dan politik, ekonomi dan hukum, dan sebagainya. Menurut Elly (2011: 62)
terdapat dua hal yang berkaitan dengan tindakan manusia dalam realitas sosial
yaitu: (1) Tindakan tersebut merupakan respon atas tindakan orang lain; (2)
Tindakan manusia yang menimbulkan respon dari pihak lain.
Dengan demikian konsep diri sosial dapat didefinisikan konsep
diri sosial sebagai keyakinan
individu mengenai dirinya,
meliputi
atribut diri, apa dan siapa diri
tersebut. Menurut Byrne
dan Shavenson (1986) berpendapat memberikan
hal yang penting dalam pengembangan materi yang disebabkan oleh perkembangan
zaman yang semakin maju. Menurut Strang (dalam
Elida Prayitno 2006:123-124) menjelaskan bahwa konsep diri sosial merupakan kemampuan sosial seseorang dalam pengendalian diri nya terhadap sosial.
Kesuksesan dalam pergaulan sosial dapat menambah kepercayaan diri individu dan
akan mengembangkan konsep diri sosial yang
positif. Epstein, Brim, Blith dan Trager (dalam Elida Prayitno, 2006:121-122)
menyatakan bahwa konsep diri sosial
yaitu perasaan seseorang tentang kualitas hubungan sosialnya dengan orang lain.
Misalnya merasa orang lain menyayangi, menghormati dan memerlukannya atau
sebaliknya.
Konsep diri
sosial didefinisikan sebagai
asumsi
individu mengenai kualitas personal
yang
diorganisasikan oleh skema diri
(Brigham
dalam Suryanto dkk., 2012).
Burns
(dalam Pratiwi dkk.,2009)
mendefinisikan
konsep diri sosial sebagai kesan
individu
terhadap dirinya sendiri secara
keseluruhan
mencakup pendapatnya tentang
diri
sendiri, pendapatnya tentang gambaran dirinya di mata orang lain dan
pendapatnya tentang
hal-hal yang dapat dicapainya.
Secara
umum, konsep diri sosial
ditafsirkan
dari perspektif multidimensional (Burns, Rosenberg, dalam
Sirgy, 1982). Grubb
dan Grathwohl (1967) menspesifikasikan
konsep diri sosial sebagai
sebuah
nilai bagi individu, sehingga
perilaku
yang ditunjukkan bertujuan untuk
melindungi
dan meningkatkan konsep diri sosial
individu
tersebut. Membeli, menggunakan
dan
memamerkan sebuah produk
merupakan
cara yang dilakukan individu
untuk
menunjukkan simbol yang bermakna
baik bagi individu itu sendiri
maupun
bagi orang lain.
Berdasarkan
beberapa definisi yang telah
dijabarkan, maka dapat diambil
kesimpulan
bahwa konsep diri sosial adalah
penilaian
individu mengenai kualitas
personalnya,
gambaran mengenai apa dan
siapa
dirinya serta gambaran dirinya di
mata
orang lain yang diperoleh melalui
persepsi
diri, refleksi diri dan perbandingan
sosial.
Oleh
itu, pengertian konsep diri sosial dapat
disimpulkan bahwa kesiapan
tersedianya suatu respon yang dapat secara langsung memengaruhi atau
memodifikasi suatu keadaan yang tidak menyenangkan. Sehingga seseorang dapat
menahan diri dari segala sesuatu atau kemampuan untuk menekan impuls yang
diterima oleh individu.
Konsep diri
sosial menurut Hurlock (dalam
Setiawan,
2013) dipengaruhi oleh dua
faktor,
yaitu
1.
faktor internal,
meliputi: intelejensi,
motivasi dan emosi,kompetensi personal, episode keberhasilan dan kegagalan, status
kesehatan serta kondisi
dan penampilan fisik.
2.
faktor eksternal, meliputi:
lingkungan keluarga,status sosial, kebudayaan dan peran pendidik. Sehubungan dengan hal
tersebut, Maxim (dalam Thalita Amelinda, 2011) mengemukakan bahwa konsep diri
sosial menyangkut gambaran atau perasaan seseorang dan kualitas hubungan
sosialnya dengan orang lain dan pandangan orang lain terhadap dirinya menurut
dirinya sendiri.
Seseorang
dengan konsep diri sosial yang tinggi dihubungkan dengan hampir semua
perilaku yang mendukung sebuah kehidupan yang sukses dan sehat (De Ridder et
al, 2011). Sedangkan, seseorang dengan konsep diri sosial yang rendah
selalu dihubungkan dengan masalah perilaku sosial dan dorongan keinginan,
seperti makan yang berlebihan, kecanduan alkohol dan narkoba, kejahatan dan
kekerasan, belanja yang berlebihan, perilaku seksual yang menyimpang, kehamilan
yang tidak diinginkan, dan merokok (Baumeister, Vohs, & Tice, 2007). Juga
dapat dihubungkan dengan masalah emosi, ketidaktercapaian prestasi disekolah
dan tempat kerja, masalah interpersonal, kurangnya ketekunan, dan lain-lain.
Pada remaja, konsep diri sosial yang rendah melibatkan perilaku-perilaku
yang membahayakan kesehatan, seperti peningkatan konsumsi alkohol, tembakau,
danganja, serta peningkatan konsumsi lemak jenuh dibandingkan dengan remaja
dengan konsep diri sosial yang tinggi (De Ridder et al., 2011).
Gambar 2.konsep diri
sosial.
Sumber: https://www.google.co.id/search?q=gambar+konsep+diri+sosial
RANGKUMAN
1. Konsep
diri merupakan terjemahan dari self-concept dan berkaitan erat dengan
kepribadian individu karena konsep diri adalah suatu susunan (konstruk) dalam
kepribadian
2. Konsep diri sosial adalah adalah kesiapan tersedianya suatu respon
yang dapat secara langsung memengaruhi atau memodifikasi suatu keadaan yang
tidak menyenangkan
3. Seseorang dikatakan memiliki konsep diri sosial
apabila dia mampu menahan dirinya dari segala sesuatu yang diterimanya dengan
cara menekan impulsnya.
4. Individu yang memiliki konsep diri
sosial
tinggi berusaha menemukan dan menerapkan cara yang tepat untuk berperilaku
dalam situasi yang bervariasi.
5. Konsep diri sosial mempengaruhi individu untuk
mengubah perilakunya sesuai dengan situasi sosial sehingga dapat mengatur kesan
lebih responsif terhadap petunjuk situasional, fleksibel, dan bersikap hangat
serta terbuka.
LATIHAN
:
1. Apakah pengertian
konsep diri?
2. apakah pengertian konsep diri sosial? Jelaskan!!!
3. Bagaimanakan cara nya kita meningkatkan konsep diri sosial dalam diri kita sendiri,
baik sebagai individu maupun sebagai mahluk sosial?
|
3. MATERI II JENIS ATAU ASPEK KONSEP DIRI SOSIAL
A.
INDIKATOR
Siswa
mampu memahami dan menjelaskan jenis atau aspek dari konsep diri sosial pada
siswa dan dapat membedakan tiap-tiap jenis konsep diri sosial pada siswa.
B. PEMBAHASAN MATERI
Menurut
Pudjijogyanti dalam Alex Sobur (2009: 509-511) konsep diri terdiri dari
beberapa tingkatan yaitu:
1)
Konsep diri global
Konsep diri global merupakan cara individu memahami
keseluruhan dirinya. Konsep diri global merupakan suatu arus kesadaran dari
keunikan diri individu. Konsep diri global memiliki tiga bagian yaitu: a). Konsep diri yang disadari :
merupakan pandangan individu mengenai kemampuannya, statusnya, dan peranannya. b). Aku sosial: merupakan pandangan
seorang individu tentang bagaimana cara orang lain memandang dirinya sendiri. c). Aku ideal: merupakan cara pandang
individu mengenai harapan tentang dirinya akan menjadi apa di kemudian hari.
2) Konsep diri mayor
Konsep diri mayor merupakan cara individu dalam memahami
aspek sosial, aspek fisik, dan aspek akademis dalam dirinya.
3) Konsep diri spesifik
Konsep diri spesifik merupakan cara individu dalam memahami
potensi dirinya terhadap setiap jenis kegiatan dalam aspek sosial, aspek fisik,
dan aspek akademis.
Sedangkan Hurlock dalam Ghiovani
(http://ghiovanidebrian. wordpress.com/tugas-kuliah/semester-/perkembangan-peserta-didik/babxvikonsep-diri/)
membagi konsep diri menjadi empat bagian, yaitu: konsep diri dasar, konsep diri
sementara, konsep diri sosial, dan konsep diri ideal. Berikut ini akan
diuraikan keempat konsep diri tersebut.
1) Konsep Diri Dasar
Konsep diri dasar meliputi presepsi mengenai penampilan.
Kemampuan dan peran status dalam kehidupan, nilai-nilai kepercayaan serta
aspirasinya.
2) Konsep Diri Sementara
Adalah konsep diri yang sifatnya hanya sementara saja
dijadikan patokkan. Apabila tempat dan situasi berbeda, konsep-konsep ini
menghilang, konsep diri ini terbentuk dari interaksi dengan lingkungan dan
biasanya dipengaruhi oleh suasana hati, emosi dan pengalaman baru yang
dilaluinya.
3) Konsep Diri Sosial
Konsep diri sosial timbul berdasarkan cara seseorang tanpa
presepsi orang lain tentang dirinya, tergantung dari perkataan dan perbuatan
orang lain pada dirinya seseorang anak yang dikatakan nakal. Konsep diri sosial
diperoleh melalui interaksi sosial dengan orang lain.
4) Konsep Diri Ideal
Konsep diri ideal terbentuk dari persepsi seseorang dan
keyakinan oleh apa yang kelak terjadi pada dirinya di masa yang akan datang.
Konsep ini berhubungan dengan pendapat individu mengenai keadaan fisik dan
psikologisnya. Menurut Hurllock (1974) konsep diri ideal ini dapat menjadi
kenyataan apabila berada dalam kehidupan nyata.
Berdasarkan
pemaparan para ahli diatas, dapat penulis simpulkan bahwa ada beberapa jenis konsep
diri seseorang yaitu konsep diri global, konsep diri mayor, konsep diri
spesifik, konsep diri positif, konsep diri negatif, konsep diri dasar, konsep
diri sementara, konsep diri sosial dan konsep diri ideal
Menurut Calhoun dan
Acocella (1990) dalam perkembangannya konsep diri sosial terbagi menjadi dua,
yaitu konsep diri sosial positif dan konsep diri sosial negatif.
1. Konsep
diri Sosial Positif
Konsep diri sosial
positif lebih kepada penerimaan diri bukan sebagai suatu kebanggaan yang besar tentang
diri. Konsep diri sosial yang positif bersifat stabil dan bervariasi. Individu
yang memiliki konsep diri sosial yang positif adalah individu yang tahu betuil
tentang dirinya dapat memahami dan menerima sejumlah fakta dan sangat
bermacammacam tentang dirinya sendiri, evaluasi terhadap dirinya sendiri
menjadi positif dan dapat menerima keberadaan orang lain. Individu yang
memiliki konsep diri sosial positif akan merancang tujuan-tujuan sesuai dengan
realitas, yaitu tujuan yang memiliki kemungkinan besar untuk dapat dicapai,
mampu menghadapi kehidupan didepannya serta menganggap bahwa hidup adalah suatu
proses penuaan. Dapat disingkat individu yang memilki konsep diri sosial
positif adalah individu yang tahu betul siapa dirinya sehingga dapat menerima
kelebihan dan kekurangan dirinya, evaluasi terhadap dirinya menjadi lebih
positif serta mampu merancang tujuan-tujuan yang sesuai dengan realitas.
Gambar 3. Konsep
diri sosial positif.
Sumber: (https://www.google.com/search?q=gambar+konsep+diri+positif)
b.
Konsep diri sosial negatif menurut Calhoun dan Acocella (1990) membagi konsep
diri sosial negatif menjadi dua type, yaitu :
1. Pandangan individu
tentag dirinya sendiri benar-benar tidak teratur, tidak memiliki perasaan
kestabilan dan keutuhan diri. Individu tersebut benar-benar tidak tahu siapa dirinya,
kekuatan dan kelemahannya atau yang
duihargai dalam kehidupannya.
Gambar
4. Jika di ibaratkan
dengan individu, individu tersebut tidak mengetahui siapa dirinya yang
sebenarnya. Sumber:(https://www.google.com/search?q=gambar+konsep+diri+negatif)
2. Pandangan tentang
dirinya terlalu stabil dan teratur. Hal ini bisa terjadi karena individu di didik
dengan cara yang sangat keras, sehingga menciptakan citra diri yang tidak
mengijinkan adanya penyimpangan dari seperangkat hukum yang dalam pikirannya
merupakan cara hidup yang tepat. Dengan demikian individu yang memilki konsep
diri sosial yang negatif terdiri dari 2 tipe, pertama yaitu individu yang tidak
tahu siapa dirinya, sedangkan yang kedua adalah individu yang memandang dirinya
dengan sangat teratur dan stabil.
Calhoun
dan Acocella (dalam Gufron, 2011: 17) mengatakan konsep diri terdiri dari tiga
dimensi
atau aspek:
a.
Pengetahuan
Pengetahuan
adalah apa yang individu ketahui tentang dirinya, secara fisik, usia, jenis kelamin,
kebangsaan, suku, pekerjaan, agama dan lain sebagainya.
b.
Harapan
Pada
saat-saat tertentu, individu yang mempunyai satu aspek pandangan tentang
kemungkinan dirinya menjadi apa di masa depan. Singkatnya, individu mempunyai harapan bagi
dirinya sendiri untuk menjadi diri yang
ideal. Diri yang ideal sangat berbeda pada masing-masing individu.
c.
Penilaian
Di
dalam penilaian, individu berperan sebagai penilai tentang diri nya sendiri.
Aakah bertentangan dengan 1) Siapakah Saya pengharapan bagi individu 2)
Seharusnya saya menjadi apa?
Hasil
penilaian tersebut disebut harga diri. Semakin tidak sesuai antara harapan dan
standar diri, maka akan semakin rendah harga diri seseorang.
Gambar
5.
Individu yang dididik dengan cara yang keras membuat pandangan dirinya sendiri
stabil dan teratur. Sumber:(https://www.google.com/search?q=gambar+konsep+diri+negatif)
RANGKUMAN
1.
Menurut Calhoun dan
Acocella (1990) dan Desmita
(2009:164) dalam perkembangannya konsep diri
sosial terbagi menjadi dua, yaitu konsep diri sosial positif dan konsep diri
sosial negatif.
2.
Konsep diri sosial
negatif menurut Calhoun dan Acocella (1990) membagi konsep diri sosial negatif menjadi
dua type, yaitu : Pertama, pandangan individu tentang dirinya sendiri
benar-benar tidak teratur, tidak memiliki perasaan kestabilan dan keutuhan
diri. Individu tersebut benar-benar tidak tahu siapa dirinya,
kekuatan dan kelemahannya atau yang dihargai
dalam kehidupannya. Kedua, pandangan tentang dirinya terlalu stabil dan
teratur. Hal ini bisa terjadi karena individu di didik dengan cara yang sangat
keras, sehingga menciptakan citra diri yang tidak mengijinkan adanya
penyimpangan dari seperangkat hukum yang dalam pikirannya merupakan cara hidup
yang tepat. Dengan demikian individu yang memilki konsep diri sosial yang
negatif terdiri dari 2 tipe, pertama yaitu individu yang tidak tahu siapa
dirinya, sedangkan yang kedua adalah individu yang memandang dirinya dengan
sangat teratur dan stabil.
LATIHAN :
1. Sebutkan Jenis-Jenis Konsep Diri yang
kamu ketahui?
2.
Apa jenis-jenis konsep diri sosial individu?
3. Apakah perbedaan
konsep diri
sosial positif dengan konsep diri sosial negatif?
|
3. MATERI III FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KONSEP DIRI SOSIAL
A. INDIKATOR
Siswa
mampu memahami dan menjelaskan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi konsep diri sosial pada siswa
yakni faktor internal dan faktor eksternal pada konsep diri sosial
B. PEMBAHASAN MATERI
Konsep diri sosial
berkembang dari sejumlah sumber yang saling berkait antara satu sumber dengan
sumber yang lain. Menurut Burns (1993), konsep diri sosial dipengaruhi oleh
faktor-faktor sebagai berikut:
1.
Citra diri, yang berisi tentang kesadaran dan citra tubuh, yang pada mulanya
dilengkapi melalui persepsi inderawi. Hal ini merupakan inti dan dasar dari
acuan dan identitas diri yang terbentuk.
2.
Kemampuan bahasa. Bahasa timbul untuk membantu proses diferensiasi terhadap
orang lain yang ada di sekitar individu, dan juga untuk memudahkan atas umpan
balik yang dilakukan oleh orang-orang terdekat (significant others).
3.Umpan balik dari
lingkungan, khususnya dari orang-orang terdekat (significant others). Individu
yang citra tubuhnya mendekati ideal masyarakat atau sesuai dengan yang
diinginkan oleh orang lain yang dihormatinya, akan mempunyai rasa harga
diri yang akan tampak melalui penilaian-penilaian yang terefleksikan.
4. Identifikasi dengan
peran jenis yang sesuai dengan stereotip masyarakat.
dentifikasi berdasarkan
penggolongan seks dan peranan seks yang sesuai dengan pengalaman masing-masing
individu akan berpengaruh terhadap sejauh mana individu memberi label maskulin
atau feminin kepada dirinya sendiri.
5. Pola asuh,
perlakuan, dan komunikasi orang tua. Hal ini akan berpengaruh terhadap harga
diri individu karena ada ketergantungan secara fisik, emosional dan sosial
kepada orang tua individu (terutama pada masa kanak-kanak), selain karena orang
tua juga merupakan sumber umpan balik bagi individu. Menurut Fuhrmann (1990),
faktor yang berpengaruh terhadap konsep diri sosial adalah identifikasi dan
interaksi dalam keluarga, teman sebaya maupun lingkungan sosial, persepsi
terhadap ras, SES (status ekonomi sosial), kebangsaan dan karakteristik fisik.
Evaluasi yang dilakukan oleh individu merupakan hasil dari keseluruhan
interaksi sosial dan pengalaman yang dipunyainya. Lingkungan sosial adalah
keseluruhan tempat yang mengandung nilai-nilai yang mempunyai karakteristik dan
kualitas yang khusus. Lingkungan teman sebaya adalah tempat untuk membuat
standar yang harus dipunyai individu dan wahana yang membuat inidividu bisa
menilai bagaimana dirinya jika dibandingkan dengan teman yang lain. Keluarga
merupakan faktor yang menerima dan menghargai individu ataujustru menolak dan
membuat individu menjadi merasa tidak berharga
.
Gambar 6.
Lingkungan sekolah dan dukungan sosial mempengaruhi konsep diri sosial masa
kanak-kanak.
RANGKUMAN
1. Dalam konsep diri
sosial terdapat faktor yang mempengaruhi bagaimana individu melaksanakan
kehidupannya. Individu yang mampu mengontrol dirinya tidak akan menjadikan
faktor-faktor dari konsep diri sosial sebagai penghambat bagi
pengembangan diri individu tersebut.
2. Faktor yang
mempengaruhi konsep diri sosial ada dua yakni faktor internal dan faktor
eksternal. Faktor internal dalam hal ini adalah usia. Sedangkan faktor
eksternal dalam hal ini adalah lingkungan keluarga
LATIHAN :
1. Apakah kasih sayang dari orang
tua berpengaruh terhadap tumbuh kembang diri anak dalam membentuk konsep
diri sosial? Jelaskan
2. Mengapa disiplin
yang diterapkan pada anak dapat berdampak pada tingkat konsep diri sosial
seseorang?
3. Mengapa usia
berpengaruh terhadap tingkat konsep diri sosial seseorang? Jelaskan!
|
4. MATERI IV
FUNGSI
KONSEP DIRI SOSIAL
A.
INDIKATOR
Siswa
mampu memahami fungsi dari seseorang yang memiliki konsep diri sosial
B.
PEMBAHASAN MATERI
Fungsi konsep diri sosial bagi individu Menurut Felker D. (1974) adalah
sebagai berikut
a.
Konsep Diri Sosial sebagai
pemeliharaan konsistensi internal
Maksudnya
adalah dengan konsep diri sosial kita dapat menjaga konsistensi kita dalam
menjalani kehidupan. Konsistensi internal dapat mengukur sejauhmana kita telah
memahami diri kita sendiri.
b.
Konsep Diri Sosial sebagai
interpretasi dari pengalaman
Pengalaman
yang sudah berlalu dapat dijadikan pelajaran untuk masa yang akan datang akan
tidak terjadi kembali. Pengalaman tersebut diinterpretasi atau dimaknai oleh
diri kita sendiri sebagai bahan perenungan atau introkpeksi diri.
c.
Konsep Diri Sosial sebagai
suatu kumpulan harapan-harapan
Melalui
konsep diri sosial ini kita dapat menumbuhkan harapan-harapan yang ingin
dicapai dengan melihat sejauhmana kita telah berjuang dan mengukur pemahaman
diri kita atau semacam prediksi untuk dapat mencapai harapan tersebut.
Fitts (1970) juga membedakan konsep
diri sosial menjadi 4 (empat) aspek diri. Aspek diri ini nerupakan bagian dari
diri yang dapat dilihat oleh orang lain pada diri seorang individu, sedangkan
dimensi diri (seperti yang telah dikemukakan), adalah bagian dari diri yang hanya dapat diketahui oleh diri
individu yang bersangkutan sendiri. Aspek-aspek dari diri (self) tersebut menurut Fitts adalah sebagai berikut.
1.
Aspek pertahanan diri(self
defensiveness).
Pada saat seorang individu
menggambarkan atau menampilkan dirinya, terkadang muncul keadaan yang tidak
sesuai dengan diri yang sebenarnya. Keadaan ini terjadi dikarenakan individu
memiliki sikap bertahan dan kurang terbuka dalam menyatakan dirinya yang
sebenarnya. Hal ini dapat terjadi, dikarenakan individu tidak ingin mengakui
hal-hal yang tidak baik di dalam dirinya. Aspek pertahanan diri ini,membuat
seorang individu mampu untuk "menyimpan" keburukan dari dirinya dan
tampil dengan baik sesuai yang diharapkan oleh lingkungan dari dirinya.
Gambar 7. keadaan
yang tidak sesuai dengan diri yang sebenarnya.
Sumber:(https://www.google.com/search?q=gambar+konsep+diri)
2.
Aspek penghargaan diri (self
esteem).
Berdasarkan label-label dan
simbol-simbol yang ada dan diberikan pada dirinya, seorang individu akan
membentuk penghargaan sendiri terhadap dirinya. Semakin baik label atau simbol
yang ada pada dirinya, maka akan semakin baik pula penghargaan yang diberikannya
pada dirinya sendiri. Demikian pula bila individu memiliki label-label atau
simbol-simbol yang kurang baik pada dirinya, maka penilaian tersebut akan
diinternalisasikannya dan membentuk penghargaan diri yang kurang baik pada
dirinya sendiri.
Gambar 8. individu
akan membentuk penghargaan sendiri terhadap dirinya
Sumber:(https://www.google.com/search?q=gambar+konsep+diri)
3.
Aspek integrasi diri (self
integration).
Aspek integrasi ini menunjukkan pada
derajat integrasi antara bagian-bagian dari diri (self). Semakin terintegrasi
bagian-bagian diri dari seorang individu, maka akan semakin baik pula ia akan
menjalankan fungsinya.
4.
Aspek kepercayaan diri (self
confidence).
Kepercayaan diri seorang individu
berasal dari tingkat kepuasannya pada dirinya sendiri. Semakin baik penilaian
seorang individu terhadap dirinya, maka semakin percaya ia akan kemampuan
dirinya. Dengan kepercayaan diri yang baik, maka seorang individu akansemakin
percaya diri di dalam menghadapi lingkungannya.
Gambar 9. .individu
yang merasa puas dengan hasilnya akan punya kepercayaan diri yang tinggi
RANGKUMAN
1.
Fungsi konsep diri sosial adalah untuk
membatasi seseorang dalam bertingkah laku agar tindakan yang dilakukan tidak
mengarah kepada hal-hal yang berdampak negatif serta merusak diri.
2. Individu yang memiliki konsep diri sosial
mampu menyeimbangkan kebutuhan yang ada pada dirinya dengan baik dan dapat
membatasi diri terhadap orang lain serta lingkungannya.
LATIHAN :
1. Setelah anda
mengetahuai apa fungsi konsep diri sosial menurut Mesina & Messina dalam Gunarsa. Coba anda jelaskan kembali
menurut bahasa anda apa saja fungsi dari konsep diri sosial !
2.
Mengapa dalam berorganisasi seseorang harus dapat memiliki konsep diri
sosial yang kuat ?
3. Apakah konsep diri sosial yang baik dapat mempengaruhi
sifat konsumtif seserang daam kehidupan sehari hari?
|
5. MATERI V
MANFAAT
KONSEP DIRI SOSIAL
A. INDIKATOR
Siswa
mampu memahami manfaat melakukan konsep diri sosial sehingga mampu menghadapi
segala sesuatu dengan tepat dan benar.
B. PEMBAHASAN
MATERI
1.
MANFAAT MELAKUKAN KONSEP DIRI
SOSIAL
Adapun manfaat jika individu dapat konsep diri sosial Isaabella (2011):
a.
Individu akan mampu menghadapi tantangan, godaan, dan
rintangan
b. Individu akan mampu berkonsentrasi
dalam beraktivitas dikehidupan sehari-hari
c.
Individu
akan mampu mengembangkan hubungan yang tulus dan akrab dengan orang lain, lebih
handal, lebih bertanggung jawab dan konsep diri sosialnya lebih baiksaat menghadapi
frustasi
Gambar. 10 Motivasi Mario Teguh tentang Konsep Diri Sosial
Sumber: http://motivasi.marioteguh.com
RANGKUMAN
1. Individu yang mampu mengendalikan konsep diri sosialnya
maka individu akan mampu menjalani kehidupan yang sesuai dengan aturan dan
norma yang berlaku dengan baik
LATIHAN:
1. Manfaat dari konsep
diri sosial adalah individu mampu menghadapi tantangan,
godaan, dan rintangan. Mengapa demikian ?
2. Manfaat apa saja
yang bisa kamu rasakan apabila kamu mampu konsep diri sosial?
3. Apakah efek yang muncul dalam lingkungan apabila semua individu di
lingkungan tersebut tidak memiliki konsep diri sosial yang baik?
|
6.
MATERI VI PEMBENTUKAN
KONSEP DIRI SOSIAL
A. INDIKATOR
Siswa mampu memahami
pembentukan konsep diri sosial pada siswa
B.
PEMBAHASAN MATERI
Konsep
diri sosial terbentuk melalui pengalaman dan interaksi yang dialami secara
berulang. Konsep diri sosial bukan bawaan sejak lahir. Seorang anak, ketika
lahir belum menyadari dirinya dan lingkungannya (Tanamal, 2004). Konsep diri terbentuk atas dua
komponen, yaitu komponen kognitif dan
komponen afektif. Komponen kognitif berarti pengetahuan individu tentang
keadaan dirinya. Komponen kognitif merupakan penjelasan dari (self picture)
yang nantinya akan membentuk citra diri (self image). Komponen afektif
merupakan penilain individu terhadap diri. Penilaian tersebut akan membentuk
penerimaan terhadap diri (self acceptance), serta harga diri (self esteem)
individu (Pudjiyogyanti, 1988: 3).
Gunarsa (1999) juga mengatakan seorang bayi baru dilahirkan
belum mengenali diri dan lingkungan sekitarnya. Namun sesudah masa kelahiran, bayi mulai
belajar secara perlahan-lahan melalui pengalaman dengan tubuh dan
lingkungannya, dan mulai berkembang kesadaran tentang dirinya yang timbul
seiring dengan meningkatnya kemampuan persepsi.
Symonds (dalam Fitts, 1971) sependapat dengan hal tersebut dan
menga-takan bahwa konsep diri sosial bukan merupakan faktor bawaan, tetapi
merupakan hasil inte-raksi individu dengan lingkungannya. Mead (dalam Burns,
1993) mengatakan bahwa konsep diri
sosial individu berkembang sebagai hasil hubungan antara proses aktifitas
sosial seperti pengalaman dan hubungan dengan individu lain dalam proses
tersebut. Konsep diri sosial merupakan hasil perkembangan perhatian
individumengenai bagaimana orang lain bereaksi terhadap dirinya. Dengan
demikian ia dapat mengantisipasi reaksi-reaksi orang lain dan memunculkan
tingkah laku sesuai. Individu tersebut pada akhirnya belajar untuk
menginterpretasikan lingkungan seperti dilakukan orang lain.
Perkembangan konsep diri sosial terjadi melalui dua tahapan
primer yang terbentuk melalui pengalaman yang diperoleh dari lingkungan
keluarga dan tahapan sekunder saat anak telah memiliki hubungan luas di luar
lingkungan keluarga (Gunarsa, 1995). Pada
masa bayi, kedekatan antara bayi dengan orang tua menentukan rasa aman dan rasa
cinta seorang bayi. Perasaan aman dan cinta ini menentukan konsep diri sosial
terutama berhubungan dengan anggapan orang tua terhadap dirinya (Papalia,
2004). Kerenggangan hubungan antara orang tua dan bayi akan menyebabkan
kecemasan dan ketidakpercayaan bayi terhadap orang tua. Akibatnya kelak
perkem-bangan sosial dan kepribadian anak akan terhambat karena anak akan
cenderung menghindari interaksi dengan orang lain (Abu Ahmadi, 2007). Santrock,
(2003) mengatakan bahwa pengalaman kedekatan bayi menentukan derajat
ketergantungannya terhadap lingkungan, temperamen, tingkat emo-sional,
kemandirian dan pergaulan anak dikemudian hari. Pengalaman awal yang diterima
anak di dalam keluarga akan dinilai sebagai perasaan diterima atau ditolak,
yang akan membentuk harapan serta tingkah laku yang diterima oleh orang lain.
Selan-jutnya bersama keluarga pula anak belajar tentang peran-peran yang akan
dimainkan dalam masyarakat, seperti nilai-nilai, sikap dan perilaku pantas dan
tidak pantas, atau baik dan buruk Bottero (2009).
Oleh karena itu, pengaruh keluarga terhadap perkem-bangan
anak lebih besar dibandingkan pengaruh sosial lain (misalnya teman sebaya).
Hubungan buruk dengan keluarga merupakan hal serius karena dapat mengurangi
perasaan aman dan anak yang kurang hubungannya dengan orang tua akan mengalami
trauma emosional hebat (Santrock, 2003) sehingga mem-pengaruhi konsep diri
sosialnya. Pada akhir masa kanak-kanak (6 tahun - pubertas) lingkungan sosial
anak semakin meluas dan berarti pengaruh sosial di luar keluarga pada anak
semakin besar. Dalam berhubungan dengan lingkungan di luar rumah, anak
menemukan tuntutan baru dan membingungkan dari kelompok berbeda dengan orang
tua. Pengaruh teman-teman sebaya dan reference group mulai memegang
peranan penting dalam pembentukan konsep diri sosial anak. Anak semakin
mengidentifikasi diri dengan kelompok usianya dan mengadopsi tingkah laku peer
group-nya. Namun demikian hubungan keluarga masih sangat mempe-ngaruhi
perkembangan kepribadian (Santrock, 2003). Pengaruh mendalam dari hubungan anak
dengan keluarga jelas terlihat dalam berbagai bidang kehidupan seperti berikut
ini :
a. Hubungan keluarga sehat dan bahagia menentukan sikap anak
terhadap sekolah yang positif dan menimbulkan dorongan berprestasi.
b. Hubungan keluarga mempengaruhi penyesuaian diri secara
sosial di luar rumah.
c. Cita-cita dan prestasi anak diberbagai bidang sangat
dipengaruhi oleh sikap orang tua.
d. Hubungan keluarga sangat besar pengaruhnya dalam
perkembangan kepribadian anak. Pandangan anak tentang diri sendiri merupakan
cermin langsung dari apa yang dinilai dan dari cara anak diperlakukan oleh
anggota keluarga.
Papalia (2004) mengatakan konsep diri sosial mulai terbentuk
selama masa "middle childhood" (6-12 tahun/ pertengahan masa
kanak-kanak). Pada masa ini konsep diri sosial berkembang lebih realistik dan
anak mulai tahu apa yang mereka butuhkan untuk hidup dan untuk masa depannya.
Anak mulai memiliki gambaran diri positif atau negatif mengenai dirinya
sendiri, yang melekat untuk waktu lama setelah masa kanak-kanak.
Gambar 11.
Pembentukan Konsep diri sosial dimulai dari sejak kecil dan di awali
dilingkungan keluarga.
Gambar 12. Pembentukan Konsep Diri Sosial dari teman sebaya
Sumber
: www.wawasanpendidikan.com
RANGKUMAN
1.
Pembentukan Individu
dalam konsep diri sosial merupakan daeri keluarga dan pembentukan sosial di
lingkungan individu itu sendiri.
2.
Pembentukan
konsep diri sosial perlu ada perubahan yang ada dalam diri individu di lingkungan
sekolah maupun di lingkungan luar sekolah.
LATIHAN:
1. Bagaimana
membentuk konsep diri sosial yang positif?
2. Apa saja cara
membentuk konsep diri sosial
individu menjadi lebih baik?
3. Apakah efek kalau terjadi pembentukan konsep
diri sosial positif dan negatif?
|
D.RANGKUMAN
KESELURUHAN:
1.
(Burns, Rosenberg,
dalam Sirgy, 1982). Grubb
dan Grathwohl (1967) menspesifikasikan
konsep diri sosial sebagai
sebuah
nilai bagi individu, sehingga
perilaku
yang ditunjukkan bertujuan untuk
melindungi
dan meningkatkan konsep diri sosial
individu
tersebut.
2. Menurut
Calhoun dan Acocella (1990) dalam
perkembangannya
konsep diri sosial terbagi menjadi dua, yaitu konsep diri sosial positif dan
konsep diri sosial negatif.
3.
Faktor- faktor
mempengaruhi konsep diri sosial ,citra diri, kemampuan bahasa, umpan balik dari
lingkungan, identifikasi dengan peran jenis yang sesuai dengan streotip
masyarakat, pola asuh
4.
Brim,
Blith dan Trager (dalam Elida Prayitno, 2006)
menyatakan bahwa konsep diri sosial yang menyangkut sosial yaitu perasaan
seseorang tentang kualitas hubungan sosialnya dengan orang lain. Misalnya
merasa orang lain menyayangi, menghormati dan memerlukannya atau sebaliknya.
5.
Konsep diri
sosial menjadi 4 (empat) aspek diri. Aspek diri ini nerupakan bagian dari diri
yang dapat dilihat oleh orang lain pada diri seorang individu, sedangkan
dimensi diri (seperti yang telah dikemukakan), adalah bagian dari diri yang hanya dapat
diketahui oleh diri individu yang bersangkutan sendiri. Aspek-aspek dari diri
(self) tersebut menurut Fitts adalah sebagai berikut: aspek pertahanan,aspek penghargaan diri, aspek integrasi, aspek
kepercayaan diri.
6.
Mead (dalam Burns,
1993) mengatakan bahwa konsep diri
sosial individu berkembang sebagai hasil hubungan antara proses aktifitas
sosial seperti pengalaman dan hubungan dengan individu lain dalam proses
tersebut. Konsep diri sosial merupakan hasil perkembangan perhatian individu mengenai bagaimana
orang lain bereaksi terhadap dirinya.
E. DISKUSI
1.
Self control adalah usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk menahan
dirinya dari segala sesuatu yang dapat merugikan diri seseorang . diskusikan
hal-hal berikut ini yang berhubungan dengan self control :
a. Orang
yang memiliki self control yang tinggi cendrung akan mampu menjadi orang yang
berkualitas dan sukses , mengapa hal itu bisa terjadi?
b. Seberapa
pentingkah seseorang melakukan self
control pada dirinya?
c. Sebagai
seorang pelajar, hal apakah yang anda lakukan untuk dapat mengontrol diri ?
Beri contoh.
d. Sikap
seperti apakah yang anda lakukan ketika kesal
dengan teman disekolah?
F. EVALUASI
1.
Pemahaman
Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan benar dan
tepat!
1. Apakah yang dimaksud dengan konsep diri sosial?
2. Sebutkan jenis atau aspek dari konsep diri
sosial !
3. Bagaimanakah strategi dan fungsi anda dalam konsep
diri sosial?
4. Apa saja manfaat jika melakukan self control
? Jelaskan.
5. Apa Faktor yang mempengaruhi konsep diri sosial?
Jelaskan
6. Bagaimana pembentukan sikap konsep diri sosial
bagi individu?
2.
Sikap
Berilah tanda cek ( V )
pada kolom yang sesuai dengan sikapmu yang sebenarnya.
No.
|
Daftar
Pertanyaan
|
Iya
|
Tidak
|
1.
|
Saya mampu mengendalikan diri saya saat teman mengajak bolos sekolah
|
||
2.
|
Saya susah beragaul dengan teman sebaya di kelas
|
||
3.
|
Saya mengerjakan tugas sekolah apabila orang tua marah.
|
||
4.
|
Saya selalu menjaga pola hidup sehat didalam dirinya dengan memakan makanan
teratur
|
||
5.
|
Saya adalah
pribadi yang penyabar
|
3.
Psikomotorik
Buatlah
program yang bertujuan untuk membangun konsep diri sosial dengan mengisi
daftar berikut :
a. Nama kegiatan :
b. Tujuan kegiatan :
c. Sasaran kegiatan :
d. Waktu pelaksanaan :
e. Tempat kegiatan :
f. Sarana yang
diperlukan :
g. Biaya :
h. Personil yang
dilibatkan :
G.
REFLEKSI
Yuuk
bernyanyi>>>
Di sini senang di sana senang
Di mana mana hatiku senang
Di rumah senang di sekolah senang
Di mana mana hatiku senang
La la la la lalala (4x)
GAMES
Games.1
Pada tahap ini, anak memainkan
peran orang lain. Dalam tahap permainan anak harus mengambil peran orang lain
yang terlibat didalam permainan tersebut.
Dari tahap permainan tersebut,
lahirlah konsep terkenal Mead yaitu ”Orang Lain pada Umumnya (Generalized
Other). Orang lain pada umumnya adalah sikap seluruh komunitas. Kemampuan untuk
memikirkan peran orang lain pada umumnya sangat mendasar bagi diri yaitu
sesuatu yang krusial ketika orang mampu mengevaluasi diri mereka sendiri dari
sudut pandang orang lain pada umumnya dan tidak sekedar dari sudut pandang
orang-orang yang tercerai berai. Memikirkan peran orang lain pada umumnya
daripada peran orang lain akan membuka kemungkinan bagi pemikiran abstrak dan
objektivitas. Dengan kata lain, agar memiliki diri, orang harus menjadi anggota
komunitas dan ia diarahkan oleh sikap yang sama dengan sikap komunitasnya
Sedangkan
menurut Erving Goffman,
diri adalah konsep yang sangat penting bagi interaksionis simbolis. Dalam upaya
memahami konsep ini, pertama-tama kita harus memahami gagasan diri yang melihat
ke kaca yang dikembangkan oleh Charles Horton Cooley. Cooley mendefinisikan
konsep ini sebagai :
Imajinasi
definitif tentang bagaimana diri seseorang yaitu gagasan yang digunakan dan
muncul dalam suatu pikiran dan perasaan diri yang dimiliki seseorang yang
ditentukan oleh sikap terhadapnya yang melekat pada pikirang orang lain. . . .
tampilan luar kita, sopan santun, tujuan, perbuatan, karakter, sahabat, dan
lain sebagainya yang dipengaruhi olehnya.
( Cooley, 1902/1964: 169).
Gagasan diri yang melihat ke kaca
dapat dipilah ke dalam tiga komponen, antara lain :
1. Kita membayangkan
bagaimana kita tampak di mata orang lain.
2. Kita membayangkan
bagaimana seharusnya penilaian mereka terhadap tampilan ini.
3. Kita mengembangkan
perasaan diri seperti bangga atau rasa malu sebagai akibat dari
bayangan kita terhadap penilaian orang
lain.
Games
2
Permainan
MENGAPA KARENA. Siswa dibagi menjadi 2 kelompok. Satu kelompok MENGAPA, dan
yang satu lagi kelompok KARENA. Kelompok satu (MENGAPA) menulis keinginan
mereka menggunakan kata mengapa (mengapa aku tidak naik kelas) dan kelompok dua
menulis keinginan mereka menggunakan kata karena (karena aku suka bermain).
Semua siswa disuruh menulis. Dan pemimpin permainan akan memilih secara acak
siswa yang dari kelompok MENGAPA dan siswa dari kelompok KARENA untuk membaca
yang mereka tulis. Begitu seterusnya berlanjut. Permainan ini bisa merilekskan
kembali siswa-siswa yang mungkin tegang atau kelelahan saat proses belajar.
Games
3
Memainkan peranan orang tua dan anak
Alat : tidak ada
Tujuan : untuk meningkatkan keharmonisan dan kekompakkan
antar siswa
Memainkan
peranan orang tua dan anak dalam peranan keluarga yang harmonis dan membentuk
sebuah kasih sayang karena dia anak yang paling dimanja oleh orang tuanya
DAFTAR
PUSTAKA
Abu
Ahmadi, (2007). psikololgi sosial, Jakarta: PT. Rineka Cipta
Benoit,
dkk. (2009) Mood (suasana hati) dan pengujian positif dalam interaksi social.Belgia.
Bodenhausen.
(2009). Challeges komplesitas identity untuk persepsi social dan interaksi social.
Jurnal USA.
Burns.
(1993). Konsep diri sosial. Jakarta: Penerbit Arca.
Desmita.
2009. Psikologi Perkembangan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Fitts, William H. 1971. The Self Concept and Self Actualization.Los
Angeles, California,.
Isaabella. 2011. Konsep
diri sosial remaja. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Kasih. 2008. Konsep
diri sosial. Jakarta: Erlangga
Keliat,
Anna. 2009. Gangguan Konsep diri sosial. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Pardede, Y.
O. K. 2008. Konsep diri sosial Anak
Jalanan Usia Remaja. Jurnal Psikologi. 1 (2):
Rakhmat,
Jalaluddin. 2007. Psikologi Komunikasi.Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Haditono,
Siti Rahayu., Monks, F. J., & Knoers. A. M. P. 2006. Psikologi
Perkembangan: Pengantar dalam Berbagai Bagiannya. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press
Hergenhahn
B, R. 2009. Theories Of Learning (Teori Belajar). Terjemahan oleh Tri
Wibowo B.S. Jakarta: Kencana
Lestari,
Anggi. 2011. Hubungan Interaksi Sosial Berdasarkan Teori Scutz dengan Prestasi
Belajar. Siswa (Studi pada Siswa Kelas XI IPA MAN Cipasung Tasikmalaya. Skripsi
(Online). (http://a-research.upi.edu), diakses pada 20 Mei 2014.
Mahmudah,
Siti. 2010. Psikologi sosial sebuah pengantari.Malang :UIN maliki Press (Anggota
IKAPI).
Mu’tadin,
Z. 2002. Kemandirian Sebagai Kebutuhan Psikologi pada Remaja. Jurnal (Online).
(http://www.e-psikologi.com), diakses pada 27 Januari 2014.
Nurhayati,
Eti. 2011. Psikologi Pendidikan Inovatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Pratama,
Yacobus Untung. 2001. Hubungan Interaksi Sosial di Dalam Keluarga dengan
Kemandirian pada Remaja. Skripsi (Online).
(http://eprints.unika.ac.id), diakses pada 04 Juni 2014.
Prayitno,
Elida. 2006. Buku Ajar Psikologi Perkembangan Remaja. Padang: Angkasa
Raya
Susilowati,
Krisna. 2011. Hubungan Antara Konformitas Teman Sebaya dan Konsep diri sosial
dengan Kemandirian Pada Remaja Panti Asuhan Muhammadiyah Karanganyar. Skripsi.
Surakarta: Universitas Sebelas Maret.
Suyanti.
2011. Hubungan Antara Intelegensi dan Kemandirian Belajar dengan Prestasi
Belajar Mata Pelajaran Sosiologi Siswa SMA Negeri 4 Surakarta Tahun Ajaran
2010/2011. Skripsi (Online). (http://eprints.uns.ac.id), diakses
pada11 Mei 2014.
Yusuf,
Syamsu. 2001. Psikologi Anak dan Remaja. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Syafnimar,
D. (2011). Hubungan komponen konsep diri sosial dengan prestasi belajar pada
remaja awal (12-16 tahun) di panti asuhan aisyiyah cabang ampang tahun 2011.
Ringkasan skripsi. Fakultas Keperawatan Universitas Andalas.
Thalita
Amelinda. 2011. Kontribusi Konsep diri sosial terhadap Hubungan Sosial Siswa di SMP
Negeri 3 Pariaman.Padang: UNP (Skripsi).
Langganan:
Postingan (Atom)
